Perdebatan Agama Yang Membuatku Menyesal

Gara-gara ngobrol sama coach soal Yahudi dan Syi'ah. Katanya coach pernah berdebat sama tetangganya yang Syi'ah. Kata aku, aku juga pernah berdebat cross over kepercayaan sama temen kosanku dulu di Bandung yg beraliran Ahmadiyah. Ahirnya aku bercerita, dan aku pikir coach dan teman-teman lain menunggu hasil battlenya siapa yang benar. Tapi aku malah menyimpulkan semuanya dengan kalimat penyesalan. Ya, penyesalan, bukan siapa yang benar dan salah.

Awalnya begini.
Tahun berapa ya, lupa, ada penyerangan mesjit Ahmadiyah di Garut. Mesjit nya rusak dan orang-orangnya dipaksa bertaubat. Nah, keluarlah si temenku itu yang aku sayangi. Dia berargumen dan menarik perhatian temen-temen yang lain. Akhirnya terungkaplah jatidirinya bahwa dia emang penganut Ahmadiayah.

Perdebatan Tiada henti.
Temen-temenku yang lain dipihak aku sih gak terlalu pro-aktif dalam perdebatan ini, mereka hanya mendukung sesekali saja. Sementara aku sendiri bagaikan Singa Jantan penuh adrenalin siap mematahkan semua teori dan dalil yang dikeluarkan si Ahmadiyah ini. Setiap dalil didukung dengan pencarian sumber yang akurat, baik tafsir sampai asbabunujul. Diapun sama begitu. Dan guys kalian gak bakal percaya. Seminggu itu kita cuman tidur 3 jam. Besoknya berangkat kuliah ngantuk bngt, pulang, makan dan langsung ngumpulin sumber data perdebatan tersebut, sampai di print berlembar-lembar kayak makalah. Sorenya mulai adu data, dan itu tak berhenti sampai mau subuh. Begitu seterusnya sampai hampir seminggu. (Bagi yang belum tau Ahmadiyah, googling aja.)

Buntu.
Dan ketika semua dalil dan logika terpatahkan, karena masing-masing punya keyakinan berbeda, akhirnya gak kerasa diantara kalimat perdebatan itu ada terselip kalimat-kalimat makian dan hinaan satu sama lain. Maklum sih ketika logika yang simple aja dia gak mau ngerti, ahirnya kan kata-kata bego bakal muncul satu-satu.

Dia hebat, dan aku kalah.
Hebatnya gimana? Dia sama-sekali gak berubah, kebaikannya, dll. Sementara aku yang kalah. Bukan soal akidah, aku yakin Nabi Muhammad emang nabi yang terahir. Sampai kapanpun aku meyakini Kitabku dan tafsirnya yang ditafsirkan imam-imam yg sejati. Tapi aku kalah, karena telah menyakiti sahabatku sendiri. Olok-olok dibalik kalimat perdebatan yang aku luncurkan sangat tidak pantas dan itu merobek hati siapapun.

Hidayah itu milik Tuhan.
Kata Nabi, kalau hidayah itu miliknya, mungkin pamannya aja yang jahat, Abu Jahal, bisa Taubat dan mengikuti ajaran Quran, nyatanya tidak. Nabi sendiri menyerahkan urusan hidayah pada Tuhan. Terus who do you think you are (siapa kita?), Nabi bukan, mau so-so an ngelurusin akidah orang. Tugas kita hanya memberitahu dengan lembut, dan menghindari perdebatan yang berujung nyinyir dan saling hina. Ini termasuk dalam perdebatan politik dan lain-lain sih.

Monumental.
Kisah ini sangat monumental bagiku. Kenapa? Karena dimasa depan kita pasti gak sengaja terlibat perdebatan tak kasat mata, baik di sosmed ataupun didunia nyata, mulai dari obrolan akademis sampai obrolan warung kopi. Tentang apapun, agama, politik, dll. Kalo mulai terpancing, aku bakal inget kisah ini (layaknya monumen) agar semua tak terulang lagi. Mulai meng-adem-kan hati. Karena aku orangnya frontal sih, agak kurang setuju dikit langsung ngomong. Nanti mah harus lebih bijak. Jangan sampai menyesal lagi.

Dan sampai sekarang, aku kalau liat temen Ahmadiyahku ini di sosmed (krn jarang ketemu) aku selalu ingin meluk dia sih, walaupun dulu udah minta maaf, pengen aja minta maaf lagi seribu kali ...

Komentar

Postingan Populer